Rabu, 30 September 2015

MAKASSAR BERDARAH





Enam hari setelah kedatangan  Westerling di Makassar, tepatnya 11 Desember 1947. Mereka memulai  melakukan operasi  militer untuk membasmi orang-orang yang dianggap sebagai pembangkan  terhadap Belanda. Mereka umumnya kaum pejuang merah putih. Bahkan  rakyat yang tidak berdosa juga ikut jadi korban keganasan Westerling.
Sebenarnya Westerling melaksanakan tindakan biadabnya sejak 7 Desember 1946 dengan menembaki  para pejuang atau orang-orang yang dicurigai sebagai Republiken. Nanti setelah 11 Desember 1946 setelah Sulsel dinyatakan SOB (Staat van Oorlog en Beleg) atau dalam keadaan darurat perang, maka   aksi brutal itu semakin ganas dilakukan.
Operasi  militer itu dimulai pada 11 Desember 1946 dengan memporak-porandakan kampung Jongaya. Masih di pagi buta  , pasukan Westerling mendatangi tiap rumah penduduk.  Semua laki-laki, baik muda maupun tua digiring ke sebuah lapangan, tak  jauh dari  Istana Andi Mappanyukki.
Pada malam itu, tidak ada tanda-tanda bahwa Westerling akan berbuat sekejam itu. Pada malam hari  keadaan di Kampung Jongaya sangat aman, tukang becak dengan bebas lalu lalang di jalan, suasana terminal di Pabbaeng-baengpun ramai. Dalam setiap rumah, terlihat ayah, ibu dan anak serta keluarga lainnya ikut bercanda dan tawa, penuh dengan kebahagiaan dalam rumah tangga.
 Demikian halnya menjelang subuh, semua masjid mengumandangkan adzam subuh,  para wargapun terlihat shalat berjmaah di masjid-masjid, apa lagi daerah Jongaya merupakan basis Muhammaiyah. Ada juga yang shalat di rumah masing-masing. Namun setelah usai waktu subuh, terdengarlah suara tembakan bertubi-tubi, dan tiap rumah masing-masing digedor secara paksa. Setiap ada laki-laki di dalam, mereka diseret satu persatu bagaikan binatang. Mereka dipaksa menuju ke tanah lapang untuk berkumpul.
Di lapangan, penduduk yang digiring itu disuruh berbaris dengan kedua belah  tangan diatas kepala . Setelah itu, Kepala Desa disuruh menunjuk siapa-siapa yang ekstrimis, teroris, perampok. Kepala Desa  setelah melihat  semua  warga  yang umumnya laki-laki, kemudian berkata “Tidak ada tuan”.
Pasukan Westerling tak percaya dengan omongan kepala desa . Karenanya, salah seorang mata-mata NICA tampil kedepan dan menunjuk 10 orang yang dikategorikan sebagai ekstrimis.
Kesepuluh orang itu yang semuanya  kaum muda diminta oleh Westerling untuk berlutut.  Dalam keadaan pasrah dan ketakutan, Westerling sendiri yang menghakimi 10 orang itu dengan menembak dahinya, dan pemuda itu satu persatu gugur bersimbah darah membasahi lapangan.
Rentetan suara pistol yang secara bertubi-tubi menghantam  ke 10 orang pemuda itu, maka salah seorang tentara Belanda berkulit hitam menghamburkan kartu anggata PNI yang berwarna merah putih di depan Westerling, sambil berteriak dalam  bahasa Belanda “Mereka semua merah putih, perampok yang mau melawan pemerintah Belanda, tanda-tanda itu didapat dari semua rumah yang ada disini, bunuh mereka semua’” pekik tentara kulitr hitam itu.
Sehabis teriakan , bukan hanya Westerling yang beraksi menghujanj peluru ke 10 orang itu, tetapi juga pasukan elitnya ikut angkat senjata dan membasmi semua warga yang digiring ke lapangan. Warga yang ditembak , mereka berteriak histeris, ada yang berkata: oo... Amma, o... Karaeng, oh.. muhammad,  dan ada yang bertakbir Allahu Akbar, ada yang bersahadat. Mereka itu pasrah dan itulah hari-hari teraklhir mereka hidup di dunia ini.
Dari rentetan tembakan itu, membuat semua warga yang digiring ke lapangan mati bersimbah darah. Lapangan tempat penembakan itu, penuh dengan mayat, darah bercucuran dimana-mana. Sementara penduduk yang masih hidup, kebanyakan wanita umumnya ketakutan melihat aksi penembakan itu. Mereka tak kuasa melawan ganasnya pasukan Westerling dan memasrahkan dirinya pada Allah Yang Maha Kuasa.  Suara tangis tak henti-hentinya melihat  ayah, saudaranya, teman-temannya ikut mati dalam peristiwa itu.
Rupanya, itulah  hari terakhir mereka warga Jongaya yang digiring ke lapangan. Mereka ditembak secara bertubi-tubi, mayat  bergelimpangan dan kucuran darah  membasahi lapangan. Mereka semua tak ada yang berani melawan dan memasrahkan dirinya  ditembak.
Setelah selesai penembakan, terlihat mayat-mayat bergelimpangan di tanah lapang. Westerling dan pasukannya, tak peduli, mereka meninggalkan begitu saja. Mayat dibiarkan begitu tergeletak beberpa jam lamanya, karena tak ada laki-laki yang berani nongol, mereka khawatir akan menjadi korban berikutnya. Mereka semua banyak yang  bergerilya masuk hutan untuk menyelamatkan diri.  Ketika keadaan sudah aman, maka  muncullah beberapa orang laki-laki, dibantu kaum perempuan untuk menguburkan mayat-mayat yang menjadi korban keganasan Westerling. Karena jumlahnya banyak, maka banyak diantara-mayat-mayat itu dikuburkan secara massal.
Diantara sekian banyak orang yang digiring Westerling ke tanah lapang, kemudian disapu bersih dengan senjata, ada salah seorang diantaranya yang selamat  dari maut. Dia adalah Raden Atmaja. Disaat melihat rekan-rekannya ditembak, ia terkena percikan darah dan membasahi sekujur tubuhnya, baju yang dipakainya punuh dengan darah  . Melihat rekannya mati, iapun pura-pura mati. Setelah Westerling meninggalkan lokasi, Raden Atmaja kemudian bangun dan minta tolong pada ibu untuk segera diselamatkan pada tempat yang tersembunyi dan aman.
Raden Atmaja itu kemudian membongkar rahasia kekejaman  Westerling dan mengirim surat rahasia  yang berjuddul Massacre Macasssar atau pembantaian  di negeri Makassar untuk dikirim ke Ratu Belanda. Dalam surat itu, Raden Atmaja menceritakan pengalamannya saat ia dan rekan-rekannya digiring Westerling untuk ditembak secara massal.
Menurut  H. Abd Rauf Daeng Nompo, yang lebih tersohor  disapa Karaeng Parigi, merupakan saksi sejarah. Walaupun saat itu, ia masih kanak-kanak, akan tetapi jasanya sebagai penghubung antara pejuang merah putih dengan pejuang lainnya, seperti Wolter Mongisidi untuk mencari tahu misi rahasia yang dilakukan oleh musuh, serta pesan-pesan dari  sesama pejuang merah putih.
Menurut Karaeng Parigi, setelah penembaan di Jongaya, keesokan harinya , tepatnya 12 Desember 1946, pasukan Westerling menuju Gunungsari dan sekitarnya untuk melakukan pembersihan. Kemudian masuk ke Kaluku Boddoa,  masuk  Paotere, menyusul Bodong-bodong,  Kampung Kassi, Tallo, Pannampu dan Tabaringan serta  semua daerah perkampungan tak luput dari operasi militer. Jumlah korban di daerah itu  besarnya  hampir sama dengan di Jongaya.
Setelah penembakan di Jongaya, maka semua penduduk, khususnya kaum pemuda lebih berhati-hati. Mereka banyak yang lari masuk hutan untuk bersembunyi bergabung dengan pasukan merah putih. Namun begitu, pada hari-hari berikutnya, banyak   kaum lelaki yang ditemukan dalam persembunyiannya, baik di rumahnya sendiri maupun di hutan-hutan. Mereka semua, setelah digiring kemudian ditembak mati.
Kegiatan pembersihan terus dilakukan,  pasukan lainnya tak henti-hentinya melakukan operasi di kampung-kampung. Mereka menggiring setiap   laki-laki yang ditemuinya kemudian ditembak mati .
Selama 20 hari lamanya  Westerling membersihkan di dalam kota Makassar dan sekitarnya.  Jumlah korban terus bertambah. Mereka tak peduli, walau  hari itu memasuki hari Natal,  Westerling laksana Malaekat maut menyambar nyawa. Kecuali pada malam tahun baru 1 Januari 1947, mereka beristirahat di gedung Seciety de Harmonie Makassar, dan berpesta pora bersama noni-noni Belanda.
Pada bulan Januari 1947, selama dua minggu lamanya, pasukan Westerling melebarkan sayap operasinya dengan radius 30 kilometer dari kota Makassar. Mereka memasuki kampung Barombong,  Limbung, Rappo Kalling,  Mangasa, Maccopa,  Biringkanaya,  Pulau Barrang Lompo dan pulau lainnya, serta perkampungan ;lainnya  tak luput dari operasi militer.
Mereka mendatangi tiap rumah, bila ada penghuninya mereka digiring. Kalau penghuninya tidak ada, maka rumah itu  dibakar. Kadang ada yang bersempunyi di rumahnya, setelah rumahnya dibakar, mereka lari keluar menyelamatkan diri dan akhirnya ditembak atau ada yang ditangkap lalu dibunuh.
Sebelum Westerling datang, baik KNIL berkebangsaan Belanda juga  pasukan KNIL: dari bangsa sendiri, dan KNIL Ambon  banyak membunuh warga Makassar,. KNIL Ambon juga banyak membantu Belanda. Pad 2 Oktober 1945, pasukan KNIL yang terdiri dari 1 pleton mengendarai 4 truk, melakukan penembakan terhadap pemuda dan warga di puinggir jalan sepanjang :Lajangngiru,  Maccini dan Maricaya.

Akibat dari serangan itu, maka para pemuda Makassar melakukan serangan balasan dengan menyerang  perkampunbgan Ambon. Mereka  membunuh semua orang Ambon yang ditemuinya, baik yang pro  belanda maupun pro Republik dan banyak memakan korban.**.