Enam hari setelah kedatangan Westerling di Makassar, tepatnya 11 Desember
1947. Mereka memulai melakukan
operasi militer untuk membasmi orang-orang
yang dianggap sebagai pembangkan
terhadap Belanda. Mereka umumnya kaum pejuang merah putih. Bahkan rakyat yang tidak berdosa juga ikut jadi
korban keganasan Westerling.
Sebenarnya Westerling melaksanakan tindakan
biadabnya sejak 7 Desember 1946 dengan menembaki para pejuang atau orang-orang yang dicurigai
sebagai Republiken. Nanti setelah 11 Desember 1946 setelah Sulsel dinyatakan
SOB (Staat van Oorlog en Beleg) atau dalam keadaan darurat perang, maka aksi brutal itu semakin ganas dilakukan.
Operasi
militer itu dimulai pada 11 Desember 1946 dengan memporak-porandakan
kampung Jongaya. Masih di pagi buta ,
pasukan Westerling mendatangi tiap rumah penduduk. Semua laki-laki, baik muda maupun tua
digiring ke sebuah lapangan, tak jauh
dari Istana Andi Mappanyukki.
Pada malam itu, tidak ada tanda-tanda bahwa
Westerling akan berbuat sekejam itu. Pada malam hari keadaan di Kampung Jongaya sangat aman,
tukang becak dengan bebas lalu lalang di jalan, suasana terminal di
Pabbaeng-baengpun ramai. Dalam setiap rumah, terlihat ayah, ibu dan anak serta
keluarga lainnya ikut bercanda dan tawa, penuh dengan kebahagiaan dalam rumah
tangga.
Demikian
halnya menjelang subuh, semua masjid mengumandangkan adzam subuh, para wargapun terlihat shalat berjmaah di
masjid-masjid, apa lagi daerah Jongaya merupakan basis Muhammaiyah. Ada juga
yang shalat di rumah masing-masing. Namun setelah usai waktu subuh,
terdengarlah suara tembakan bertubi-tubi, dan tiap rumah masing-masing digedor
secara paksa. Setiap ada laki-laki di dalam, mereka diseret satu persatu
bagaikan binatang. Mereka dipaksa menuju ke tanah lapang untuk berkumpul.
Di lapangan, penduduk yang digiring itu disuruh
berbaris dengan kedua belah tangan
diatas kepala . Setelah itu, Kepala Desa disuruh menunjuk siapa-siapa yang
ekstrimis, teroris, perampok. Kepala Desa
setelah melihat semua warga
yang umumnya laki-laki, kemudian berkata “Tidak ada tuan”.
Pasukan Westerling tak percaya dengan omongan
kepala desa . Karenanya, salah seorang mata-mata NICA tampil kedepan dan
menunjuk 10 orang yang dikategorikan sebagai ekstrimis.
Kesepuluh orang itu yang semuanya kaum muda diminta oleh Westerling untuk
berlutut. Dalam keadaan pasrah dan
ketakutan, Westerling sendiri yang menghakimi 10 orang itu dengan menembak
dahinya, dan pemuda itu satu persatu gugur bersimbah darah membasahi lapangan.
Rentetan suara pistol yang secara bertubi-tubi
menghantam ke 10 orang pemuda itu, maka
salah seorang tentara Belanda berkulit hitam menghamburkan kartu anggata PNI
yang berwarna merah putih di depan Westerling, sambil berteriak dalam bahasa Belanda “Mereka semua merah putih, perampok yang mau melawan pemerintah
Belanda, tanda-tanda itu didapat dari semua rumah yang ada disini, bunuh mereka
semua’” pekik tentara kulitr hitam itu.
Sehabis teriakan , bukan hanya Westerling yang
beraksi menghujanj peluru ke 10 orang itu, tetapi juga pasukan elitnya ikut
angkat senjata dan membasmi semua warga yang digiring ke lapangan. Warga yang
ditembak , mereka berteriak histeris, ada yang berkata: oo... Amma, o... Karaeng, oh.. muhammad, dan ada yang bertakbir Allahu Akbar, ada yang
bersahadat. Mereka itu pasrah dan itulah hari-hari teraklhir mereka hidup
di dunia ini.
Dari rentetan tembakan itu, membuat semua warga
yang digiring ke lapangan mati bersimbah darah. Lapangan tempat penembakan itu,
penuh dengan mayat, darah bercucuran dimana-mana. Sementara penduduk yang masih
hidup, kebanyakan wanita umumnya ketakutan melihat aksi penembakan itu. Mereka
tak kuasa melawan ganasnya pasukan Westerling dan memasrahkan dirinya pada
Allah Yang Maha Kuasa. Suara tangis tak
henti-hentinya melihat ayah, saudaranya,
teman-temannya ikut mati dalam peristiwa itu.
Rupanya, itulah
hari terakhir mereka warga Jongaya yang digiring ke lapangan. Mereka
ditembak secara bertubi-tubi, mayat
bergelimpangan dan kucuran darah
membasahi lapangan. Mereka semua tak ada yang berani melawan dan
memasrahkan dirinya ditembak.
Setelah selesai penembakan, terlihat mayat-mayat
bergelimpangan di tanah lapang. Westerling dan pasukannya, tak peduli, mereka
meninggalkan begitu saja. Mayat dibiarkan begitu tergeletak beberpa jam
lamanya, karena tak ada laki-laki yang berani nongol, mereka khawatir akan
menjadi korban berikutnya. Mereka semua banyak yang bergerilya masuk hutan untuk menyelamatkan
diri. Ketika keadaan sudah aman,
maka muncullah beberapa orang laki-laki,
dibantu kaum perempuan untuk menguburkan mayat-mayat yang menjadi korban
keganasan Westerling. Karena jumlahnya banyak, maka banyak diantara-mayat-mayat
itu dikuburkan secara massal.
Diantara sekian banyak orang yang digiring
Westerling ke tanah lapang, kemudian disapu bersih dengan senjata, ada salah
seorang diantaranya yang selamat dari
maut. Dia adalah Raden Atmaja.
Disaat melihat rekan-rekannya ditembak, ia terkena percikan darah dan membasahi
sekujur tubuhnya, baju yang dipakainya punuh dengan darah . Melihat rekannya mati, iapun pura-pura
mati. Setelah Westerling meninggalkan lokasi, Raden Atmaja kemudian bangun dan
minta tolong pada ibu untuk segera diselamatkan pada tempat yang tersembunyi
dan aman.
Raden Atmaja itu kemudian membongkar rahasia
kekejaman Westerling dan mengirim surat
rahasia yang berjuddul Massacre
Macasssar atau pembantaian di
negeri Makassar untuk dikirim ke Ratu Belanda. Dalam surat itu, Raden Atmaja
menceritakan pengalamannya saat ia dan rekan-rekannya digiring Westerling untuk
ditembak secara massal.
Menurut H.
Abd Rauf Daeng Nompo, yang lebih tersohor
disapa Karaeng Parigi, merupakan saksi sejarah. Walaupun saat itu, ia
masih kanak-kanak, akan tetapi jasanya sebagai penghubung antara pejuang merah
putih dengan pejuang lainnya, seperti Wolter Mongisidi untuk mencari tahu misi
rahasia yang dilakukan oleh musuh, serta pesan-pesan dari sesama pejuang merah putih.
Menurut Karaeng Parigi, setelah penembaan di
Jongaya, keesokan harinya , tepatnya 12 Desember 1946, pasukan Westerling menuju
Gunungsari dan sekitarnya untuk melakukan pembersihan. Kemudian masuk ke Kaluku
Boddoa, masuk Paotere, menyusul Bodong-bodong, Kampung Kassi, Tallo, Pannampu dan Tabaringan
serta semua daerah perkampungan tak
luput dari operasi militer. Jumlah korban di daerah itu besarnya
hampir sama dengan di Jongaya.
Setelah penembakan di Jongaya, maka semua penduduk,
khususnya kaum pemuda lebih berhati-hati. Mereka banyak yang lari masuk hutan
untuk bersembunyi bergabung dengan pasukan merah putih. Namun begitu, pada
hari-hari berikutnya, banyak kaum
lelaki yang ditemukan dalam persembunyiannya, baik di rumahnya sendiri maupun
di hutan-hutan. Mereka semua, setelah digiring kemudian ditembak mati.
Kegiatan pembersihan terus dilakukan, pasukan lainnya tak henti-hentinya melakukan
operasi di kampung-kampung. Mereka menggiring setiap laki-laki yang ditemuinya kemudian ditembak
mati .
Selama 20 hari lamanya Westerling membersihkan di dalam
kota Makassar dan sekitarnya. Jumlah
korban terus bertambah. Mereka tak peduli, walau hari itu memasuki hari Natal, Westerling laksana Malaekat maut menyambar
nyawa. Kecuali pada malam tahun baru 1 Januari 1947, mereka beristirahat di
gedung Seciety de Harmonie Makassar,
dan berpesta pora bersama noni-noni Belanda.
Pada bulan Januari 1947, selama dua minggu lamanya,
pasukan Westerling melebarkan sayap operasinya dengan radius 30 kilometer dari
kota Makassar. Mereka memasuki kampung Barombong, Limbung, Rappo Kalling, Mangasa, Maccopa, Biringkanaya,
Pulau Barrang Lompo dan pulau lainnya, serta perkampungan ;lainnya tak luput dari operasi militer.
Mereka mendatangi tiap rumah, bila ada penghuninya
mereka digiring. Kalau penghuninya tidak ada, maka rumah itu dibakar. Kadang ada yang bersempunyi di
rumahnya, setelah rumahnya dibakar, mereka lari keluar menyelamatkan diri dan
akhirnya ditembak atau ada yang ditangkap lalu dibunuh.
Sebelum Westerling datang, baik KNIL berkebangsaan
Belanda juga pasukan KNIL: dari bangsa
sendiri, dan KNIL Ambon banyak membunuh
warga Makassar,. KNIL Ambon juga banyak membantu Belanda. Pad 2 Oktober 1945,
pasukan KNIL yang terdiri dari 1 pleton mengendarai 4 truk, melakukan
penembakan terhadap pemuda dan warga di puinggir jalan sepanjang
:Lajangngiru, Maccini dan Maricaya.
Akibat dari serangan itu, maka para pemuda Makassar
melakukan serangan balasan dengan menyerang
perkampunbgan Ambon. Mereka
membunuh semua orang Ambon yang ditemuinya, baik yang pro belanda maupun pro Republik dan banyak
memakan korban.**.

